Postingan

Menampilkan postingan dengan label 30DWC

Sugeng Rawuh

Sugeng Rawuuhh.. bagi yang berdarah jawa pasti tidak asing dengan dua kata tadi yang bermakna selamat datang. Kali ini aku sedang tidak ingin membahas makna dua kata tadi secara mendalam. Cukup tahu maknanya saja. Dan mungkin pas dengan kondisi sekarang yang memang sedang memasuki tahun baru.  Mengakhiri tahun 2018 ada banyak sekali postingan-postingan yang berseliweran di media sosial tentang pencapaian-pencapaian atau juga kenangan-kenangan yang telah dilalui selama 1 tahun terkahir. Dan jenisnya beragam. Tergantung kepada siapa yang merasakan. Ada yang berupa kebahagiaan, dan ada juga kesedihan. Wajar kan, sebab dunia ini tidak melulu soal senang. Sesekali juga harus merasakan pedihnya kesedihan.  Namun, diantara euforia itu semua, tidak sedikit pula yang mulai menuliskan resolusi-resolusi yang kelak harus dicapai di tahun yang baru. Pencapaian apa lagi yang harus segera dituntaskan. Seperti, segera menyelesaikan perkuliahan, mencari pekerjaan, melanjutkan belajar...

Biasa Saja

Akhir-akhir ini, tanpa sengaja kita saling berpapasan di jalanan. Saling melempar senyum, tanda mengenal. Sesekali saling berbicara ringan bila ada kesempatan. Atau bila tidak, hanya menyapa dan sekadar bertanya “Apa kabar?” Aku yang awalnya biasa-biasa saja dengan setiap keadaan, tiba-tiba merasakan kenyamanan dari setiap pertemuan. Meskipun sebentar, tidak mengapa. Asalkan ada kabar. Meskipun hanya sapaan, tidak apa-apa. Aku sudah merasa senang. Paling tidak aku menjadi tahu, bahwa kamu baik-baik saja. Aku sangat menikmati perubahan ini. Karena ada seseorang yang akan bertanya perihalku di pagi hari. Melemparkan senyum jenaka yang lucu sekali. Walaupun hanya sesekali, aku sangat menghargai. Karena di luar sana tidak semua orang ingin tahu tentang kabarku sehari-hari. Tidak ingin berbagi keceriaan yang bisa mengobati luka hati.  Tapi, bila suatu hari nanti ada kesempatan, rasanya ingin sekali bertanya. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Pertemuan tanpa sengaja akhir...

Jika Boleh

Jika boleh, ingin sekali memberi jeda untuk semua aktivitas dan rutinitas. Mengasingkan diri untuk beberapa saat dari setiap pertemuan. Bersembunyi dari setiap perbincangan yang acapkali menyudutkan. Menghindar diri dari wajah-wajah yang membuat ketidaknyamanan. Lantas berlari keluar dari zona nyaman yang selama ini jauh dari kenyataan. Alasan itupun semakin menguat ketika sempat terjatuh beberapa kali, tapi tidak ada satupun orang yang datang menolongi. Hanya memandang tanpa memberi bantuan. Seperti ingin mengatakan bahwa ianya pantas untuk dirasakan. Pun ketika menangis. Ketika hati begitu teriris. Tidak ada teman karib yang datang merengkuh. Yang ada justru menjauh. Tidak ada kalimat penghiburan. Malah bening air mata jatuh berhamburan. Betapa sakitnya ketika merasakan itu semua. Ketika semua harapan tak berwujud sempurna. Ketika kebersamaan berakhir dengan lukisan luka. Ketika tangisan menjadi pelengkap duka. Lalu apa lagi hendak dikata? Hingga tiba pada satu titik, pada satu ke...

Pribumi: Pesan Mbah

Sesekali aku membetulkan posisi duduk, mencari bagaimana nyamannya. Sesekali kugerakkan kepala ke kiri dan ke kanan, juga jari-jari tangan yang tiba-tiba kesemutan. Tapi mata dan telingaku tidak berpindah sedikit jua. Menatap penuh hikmat, mendengar dengan cermat. Ini sebuah hikayat yang tak pernah membuatku muak atau jelak. Adalah Mbah Jiyem, mbah wedok yang senang berkisah. Meskipun hari tuanya tampak di penghujung lelah. Sedikit pun tak membuat surut semangat hatinya bertutur tentang sejarah. Udara dingin seusai hujan tadi petang bukan penghambat dia untuk kembali berkisah. Bunyi-bunyi jangkrik di sebelah rumah menjadi penyemarak suasana. Secangkir kopi hangat yang kubuat tadi tinggal setengah. Ubi rebus hasil manen di belakang rumah,  juga tinggal separuh dari aslinya. “Jadi, kamu itu harusnya bersyukur, Nduk. Masa remajamu bisa kamu isi dengan ngumpul-ngumpul bersama teman-temanmu, dan juga bisa berkarya. Lah, zaman Mbah dulu  nggak sempet mau ngumpul, ngobr...

Oktober: Hujan, Doa, LPDP

Gambar
  Apa yang paling membahagiakan dari Oktober? Yap, hari kelahiran. Hihi, karena Oktober hari kelahiran maka aku sangat senang ketika September berakhir. Itu tandanya Oktober akan datang. Dan akan bersedih ketika Oktober berakhir. Karena itu tandanya aku akan menunggu duabelas bulan ke depan. Hiks, kan jadi sedih. However,  aku tetap bersyukur karena masih diberikan waktu dan kesempatan untuk bertemu Oktober di tahun ini. Artinya Allah masih memberikan waktu untukku berkarya dan terus bersyukur atas setiap kesempatan selama 22 tahun yang lewat. Yes , sekarang aku sudah genap 23 tahun. Belum tuir kok. Hihihi Selain itu, berbeda dari Oktober yang sudah lewat (mungkin karena aku yang lupa) Oktober tahun ini sepertinya matahari sangat bersemangat sekali untuk menghujami buminya dengan sinar yang sangat panas. Sampai ada satu waktu aku berdoa, bahkan aku buat tuh tulisannya dengan judul “Ketika Hujan Tiba” (bisa dibaca di blog ini) dengan harapan hujan akan datang bula...

Mengemas Lelah

“Bagaimana mengemas lelah?” Begitu tanyamu ketika senja telah menggulung tirainya dengan sempurna. Tergantikan dengan tabir malam yang berwarna hitam pekat. Menampakkan kerlap-kerlip bintang dari kejauhan. Saat itu kita baru saja menyelesaikan sholat maghrib bersama-sama. Di sebuah masjid raya di tengah kota. Dan setelahnya memilih untuk duduk sebentar di terasnya. Bercakap-cakap ringan sebelum memutuskan untuk pulang. “Bagaimana mengemas Lelah?” Tanyamu lagi seperti ingin diperduli. Memintaku untuk benar-benar melihatmu dengan jeli. Menelisik setiap senti kelelahan yang telah menghabiskan waktumu hari ini.  Merenggut wajah ceriamu, juga membuat jilbab putihmu terlihat mulai lusuh, tidak rapi. “Kamu lelah?” Bukan menjawab, aku malah bertanya seakan ingin meyakinkan. Apa lelahnya sekadar pelampiasan, atau sememangnya harus segera dihilangkan dengan kalimat penghiburan. Karena aku tahu, selama ini kamu begitu bijak menyimpan semua rasa. Menjag...

Saudara untuk didoakan

Ketika senja mulai tiba, ada untaian doa yang mengalir hangat. Langsung kudengar dari bibir seseorang yang kugelar sahabat dekat. Dia berdoa sembari menggenggam tanganku dengan erat. Mengatur setiap katanya dengan tepat. Dan kufikir, doanya adalah pinta yang sederhana. Tidak terlalu banyak meminta di dalamnya. Hanya bait-bait harapan tentang kebaikan agar segera kutemukan di masa depan. Dan disaat Maghrib usai, kejadian serupa kembali terulang. Hanya kali ini berbeda di dalam penyampaian. Kumpulan doa-doa terbaik itu hadir lewat pesan singkat di beberapa akun media sosial. Aku segera membukanya satu persatu. Memindai dengan cepat siapakah gerangan yang telah rela meluangkan waktunya dengan berdoa untukku. Lantas setelah kutahu siapa pengirimnya, segera kunikmati setiap baris katanya dengan hati yang mengharu biru. Dan sesudahnya ku Aminkan satu persatu. Sejenak aku menjadi sadar bahwasanya setiap doa yang mengalir, setiap harapan akan kebaikan yang bergulir, adalah pertanda bahwa aku...

Sebagai Saudara

Dia masih setia di tempatnya. Duduk menekuri lalu lalang orang di luar sana. Terhalang oleh dinding kaca yang membatasinya. Kopi hangat yang dipesan beberapa saat yang lewat, disesapnya lambat-lambat. Hangatnya meresap, tapi tidak menyentuh hatinya. Dingin. Ya. Untuk beberapa hari ini, cuaca hatinya berubah menjadi dingin. Sedingin hujan deras yang baru saja usai. Meruapi dinding hatinya dengan kesedihan. Memanggil-manggil potongan episode kehidupan yang tidak ingin dikenang. Memenuhi jiwanya dengan rindu yang berkepanjangan. Aku sengaja memilih jarak aman. Terhindarkan dari pandangan matanya yang selalu menahan beban kesedihan. Mengamati riak wajahnya yang tidak lagi tersimpan keceriaan. Khawatir bila tiba-tiba ada tatap mata bertemu, dia akan pergi menjauh. Membawa semua sesak jiwanya yang belum habis. Mengundang kembali gerimis tipis di hatinya yang terlampau sakit. Selama ini terlalu banyak hal yang dilaluinya dengan tangisan. Apalagi ketika orang-orang terbaik di sekitarnya pam...

Pamit

Bentangan langit yang membiru, di tambah dengan awan putih yang berarak padu, seperti menandakan bahwa hari ini cukup cerah. Angin yang sesekali menerpa dedaunan kering, menambah yakin kalau cerahnya untuk waktu yang lama. Aku duduk di sini. Di depanmu tepatnya. Di dalam sebuah ruangan yang menjadi favorit kita berdua. Meskipun terhalang oleh dinding kaca, kita tetap bisa melihat cerahnya langit di luar sana. Dua cangkir cokelat yang kita pesan tadi, kuambil dan kuteguk lambat-lambat. Hm.. sudah tidak hangat. Mungkin karena terlalu lama dibiarkan. Begitu pula sepertinya dengan hatimu yang tidak lagi menghangat. Mungkin karena aku yang terlalu lama tidak memulai bicara. Sesekali aku melihat keluar. Menghindar dari tatapan matamu yang tajam. Mencoba mencari-cari sesuatu diluar sana. Memaku mata pada sesuatu agar dapat melihat keluar berlama-lama. Dan pada akhirnya, kata itu harus kembali kusampaikan juga. Pamit. Ya. Aku ingin pamit darimu untuk waktu yang aku sendiri belum bisa mem...

Apa Kamu Bahagia?

Sejak hari bahagia itu, aku sama sekali tidak ada mendengar kabar darimu. Berkali-kali aku menelusuri akun media sosial milikmu. Mencari tahu kabarmu, melihat foto-foto terbaru, sambil sesekali melihat siapa saja yang mampir di setiap kiriman itu. Karena biasanya kamu ada di sana. mengabarkan pada dunia dari balik jendela maya. Menyapa ramah setiap orang yang mampir di sana. Dan aku cukup senang karenanya. Itu tandanya kamu baik-baik saja. Namun, kali ini usaha itu tidak menghasilkan apa-apa. Kamu tidak ada di sana. Akun media sosial mu sepi. Terkunci. Tidak ada pesan status seperti biasa. tidak ada kabar yang menyapa, apalagi foto terbaru dengan aneka gaya. Ingin sekali aku bertanya pada teman terdekat. Kamu apa kabar? Di mana sekarang? Daaan.. Apa kamu bahagia? Ya. Deretan tanya itu menggebu-gebu untuk segera dijawab olehmu. Mewakili rasa ingin tahu yang terus mengharu biru. Dan kamu harus tahu, bahwa sebenarnya itu tanda aku sedang merindu. Aku tahu ini tidak baik. Da...