Mungkin itu Ci(n)ta #2
“Oh, Silahkan. Kita juga sudah selesai kok.” Zizi akhirnya membuka suara sambil melirik ke arah Nadya. Yang di lirik hanya membalas dengan tatapan heran. “Kan kita juga belum lama, Zi.” Protes Nadya singkat. “Minumanmu juga belum berkurang” lanjutnya lagi. Ahh.. Zizi ketahuan bohong. Niat hatinya ingin cepat-cepat menyingkir dari depan Arya jadi gagal. Di lihatnya Arya yang ternyata kebingungan dengan tingkah Zizi barusan. “Nggak apa-apa. Duduk aja.” Alih-alih Nadya meminta Arya untuk duduk di depannya. “Zizi memang seperti ini orangnya.” Timpal Nadya tanpa wajah berdosa. Arya mengangguk ringan dan segera duduk. Zizi yang mengerti maksud Nadya bertambah berang hatinya. Giginya di rapatkan, rahangnya pasti terlihat mengeras dari balik jilbab putih seragam sekolahnya. Tidak menunggu waktu lama, segera dia berdiri dari kursinya. Dengan sedikit gerakan kasar, dia menarik kursinya ke belakang. “Maaf Nad, aku duluan ya.” Akhirnya Zizi memilih untuk pergi. Tidak ingin berlama-lama...