Postingan

Menampilkan postingan dengan label Samsarakata

Serupa Bebijian

Aku tak berani menamakan diri layaknya pohon yang menjulang tinggi, bila ternyata akarku tidak begitu kuat untuk menahan diriku sendiri. Aku tak berani menyerupai diri seperti pohon yang berdaun rindang, bila akhirnya daun-daunku terlalu cepat berguguran bila disapa angin pun hujan, hingga membuat serakan di jalanan. Barangkali di dalam diriku ini baru terkumpul bebijian   yang tertanam dalam-dalam. Sedang belajar bertahan hidup di dalam kegelapan. Begitu takut untuk menampakkan diri di keramaian. Meski hujan kerap datang menggoda dan menawarkan sebuah kesempatan, muncullah ke permukaan. Hingga hari ini pun masih serupa bebijian. Yang belum tahu sampai kapan akan bertahan di dalam kesendirian. Namun,   bila nanti waktunya telah tiba bila hujan tak lagi datang menggoda, kupastikan akan menyeruak keluar dengan segera. Berusaha menemukan jalan untuk bertemu cahaya mentari di saat pagi maupun senja. Berusaha menjulurkan dahannya dan merimbunkan rantingnya d...

Kaki Telanjang

Wahai Tuan yang menggelarkan diri dengan “Kaki Telanjang”, apa kabar? Sejatinya aku ingin bertanya, mengapa kamu memilih nama itu? karena menurutku ia terdengar aneh, pelik dan tidak masuk akal. Sebab seumur hidupku, gelar itu menyerupai seekor hewan berkaki dua. Yang selalu melengking di pagi buta. Juga kerap kusantap ketika lebaran tiba. Tapi, terlepas dari itu semua, aku jauh lebih menyenangi jika memanggilmu dengan nama Rizki Fadhila. Jauh lebih baik dan penuh makna. Sebenarnya aku mulai menyerah dengan tugas ini. Sebab mencari tahu tentangmu secara langsung, nyatanya bukan langkah yang membuatku beruntung. Mungkin karena di antara kita yang tidak pernah mulai menyapa, sudah tentu membuatmu tidak ingin dikenal dan digali begitu saja. Oleh sebab itu aku pun menahan diri untuk tidak bertanya.  Tapi Tuan, di lain kesempatan aku mendengar perihalmu dari orang-orang. Kata mereka, dirimu memang seperti itu. Kata-katamu memang sedikit, bahkan terkesan pelit. Tapi bukan bera...

Belum Bijaksana

Untuk  kali ini lidahku kelu, gerakku wagu. Barangkali kiriman  surat dari seseorang yang mengaku dirinya Raja menjadi salah satu indikasi penyebabnya. Cukup lama aku mereka-reka kata untuk membalas isinya. Menyusunnya menjadi sedemikian rupa. Untuk itu kupilih Angsana dan  Bidara menjadi tempat melepas rasa. Namun sayang, aku justru jatuh kebingungan. Isinya tiba-tiba menggantung di langit-langit perasaan. Apa jangan-jangan aku harus memulai khayalan layaknya Ratu di sebuah Negara, lalu  dengan segera membalasnya? Menyepakati tentang semua isinya? Ah, yang benar saja! Sekalipun terdengar pelik. Aku tidak mencoba untuk menampik. Mungkin akan lebih baik kubiarkan saja. Melangut bersama datangnya pawana.  Sampai tiba waktunya, akan kumasukkan ia ke dalam senarai yang harus ditebus dengan segera.  Agar impas di akhir cerita. Ah, maaf bila belum bijaksana.