Mengemas Lelah
“Bagaimana mengemas lelah?” Begitu tanyamu ketika senja telah menggulung tirainya dengan sempurna. Tergantikan dengan tabir malam yang berwarna hitam pekat. Menampakkan kerlap-kerlip bintang dari kejauhan. Saat itu kita baru saja menyelesaikan sholat maghrib bersama-sama. Di sebuah masjid raya di tengah kota. Dan setelahnya memilih untuk duduk sebentar di terasnya. Bercakap-cakap ringan sebelum memutuskan untuk pulang. “Bagaimana mengemas Lelah?” Tanyamu lagi seperti ingin diperduli. Memintaku untuk benar-benar melihatmu dengan jeli. Menelisik setiap senti kelelahan yang telah menghabiskan waktumu hari ini. Merenggut wajah ceriamu, juga membuat jilbab putihmu terlihat mulai lusuh, tidak rapi. “Kamu lelah?” Bukan menjawab, aku malah bertanya seakan ingin meyakinkan. Apa lelahnya sekadar pelampiasan, atau sememangnya harus segera dihilangkan dengan kalimat penghiburan. Karena aku tahu, selama ini kamu begitu bijak menyimpan semua rasa. Menjag...