Duhai jiwaku; ulat yang rakus pada dedaun dunia; berkepomponglah pada Ramadhan; hingga taqwa jadikanmu kekupu jelita, di antara wangi bunga.
— Salim A. Fillah (@salimafillah) 15 Juni 2015
Pamit
Bentangan langit yang membiru, di tambah dengan awan putih yang berarak padu, seperti menandakan bahwa hari ini cukup cerah. Angin yang sesekali menerpa dedaunan kering, menambah yakin kalau cerahnya untuk waktu yang lama. Aku duduk di sini. Di depanmu tepatnya. Di dalam sebuah ruangan yang menjadi favorit kita berdua. Meskipun terhalang oleh dinding kaca, kita tetap bisa melihat cerahnya langit di luar sana. Dua cangkir cokelat yang kita pesan tadi, kuambil dan kuteguk lambat-lambat. Hm.. sudah tidak hangat. Mungkin karena terlalu lama dibiarkan. Begitu pula sepertinya dengan hatimu yang tidak lagi menghangat. Mungkin karena aku yang terlalu lama tidak memulai bicara. Sesekali aku melihat keluar. Menghindar dari tatapan matamu yang tajam. Mencoba mencari-cari sesuatu diluar sana. Memaku mata pada sesuatu agar dapat melihat keluar berlama-lama. Dan pada akhirnya, kata itu harus kembali kusampaikan juga. Pamit. Ya. Aku ingin pamit darimu untuk waktu yang aku sendiri belum bisa mem...
Komentar
Posting Komentar